Saat itu hati ini mulai bergetar, entah perasaan ku campur
aduk setelah teringat waktu bersama. Mungkin saja ini perasaan rindu yang tak
berkesudahan. Saat kau mulai mengucapkan kata-kata terakhir mu untukku, aku
diam dan hanya bisa menangis. Tak mampu melihat sorot mata mu yang tajam itu.
Dengan rasa ikhlas aku rela melepas mu demi masa depan kita.
Aku yakin kau jodoh yang dikirim Tuhan untukku, tak masalah
bagiku jika jarak dan waktu yang akan memisahkan kita sebentar. Saat di Bandara
Juanda terakhir kita saling memeluk untuk beberapa tahun kemudian. Mama mu
hanya bisa mengelus air mata yang ada dipipi ku, dan Ayahmu hanya bisa
merangkul ku seraya berkata “Sudahlah sayang jangan bersedih, dia hanya pergi
untuk beberapa tahun melanjutkan ke
universitas yang telah dipilihnya” sambil mengelus rambutku.
Hari-hari ku lalui tanpa ada kabar darimu, ketika teringat
kejadian di Bandara Juanda itu aku sering merasakan kau akan pergi dariku. Air
mata pun turun seperti derasnya hujan. Sebentar lagi aku akan mendapatkan gelar
Sarjana Ekonomi. Dan aku mengharapkan kau datang ketika aku akan diwisuda
nanti.
Waktu begitu cepat kurasa. Tiba waktunya hari dimana aku akan
diwisuda dan mendapatkan gelar yang aku idam-idamkan selama aku kecil dulu.
Dimana aku berjuang sendiri melawan kerasnya dunia pendidikan, tapi berkat 2
malaikat nyataku yang selalu memberikan materi, do’a serta kasih sayang aku
bisa menghadapi ini semua.
Waktu itu langit terlihat mendung, aku dan kedua malaikat
nyataku pergi bergegas kekampus ku. Beliau takut akan terlambat di acara yang
bersejarah ini. Sampai di kampus kami pun duduk ditempat yang sudah disediakan
oleh panitia. Acarapun dimulai. Sejak diumumkan mahasiswa/i lulusan terbaik dan
piala serta piagamnya akan diserahkan oleh Dosen Internasional ternama yang
berkunjung ke Indonesia.
Entah kenapa badan ku berkeringat dingin, jantungku berdetak
kencang tak seperti biasanya saat namaku lah yang dipanggil sebagai Mahasiswi
lulusan terbaik. Akupun beranjak dari tempat duduk ke panggung untuk mengambil
apa yang aku capai.
Sampai dipanggung, sontak saja aku terkejut ketika melihat
wajah Dosen yang disebut-sebut tadi, seperti ku pernah mengenalnya. Dia memberikan
selamat kepadaku dengan suara lembutnya. Ternyata dia adalah kekasihku 5 tahun
belakangan. Dia segera memelukku erat dan mencium keningku. Saat yang bersamaan
hujanpun turun membasahi halaman kampus, serta menghapus air mata kerinduan.
Semua mata tertuju kepada kami, semua merasa bingung termasuk
kedua malaikat nyataku. Dosen itu akhirnya menjelaskan kepada tamu undangan
bahwa akulah kekasihnya yang 5 tahun belakangan. Disaat yang sama dia
mengucapkan dihadapan orang banyak bahwa aku mau dia jadikan istrinya.
Aku hanya bisa diam dan mengiyakan, sudah lama aku ingin bertemu
dengannya. Dan benar saja dia jodohku yang dikirim Tuhan untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar