Minggu, 23 Agustus 2015

Cerita dibalik Hujan



Saat itu hati ini mulai bergetar, entah perasaan ku campur aduk setelah teringat waktu bersama. Mungkin saja ini perasaan rindu yang tak berkesudahan. Saat kau mulai mengucapkan kata-kata terakhir mu untukku, aku diam dan hanya bisa menangis. Tak mampu melihat sorot mata mu yang tajam itu. Dengan rasa ikhlas aku rela melepas mu demi masa depan kita.
Aku yakin kau jodoh yang dikirim Tuhan untukku, tak masalah bagiku jika jarak dan waktu yang akan memisahkan kita sebentar. Saat di Bandara Juanda terakhir kita saling memeluk untuk beberapa tahun kemudian. Mama mu hanya bisa mengelus air mata yang ada dipipi ku, dan Ayahmu hanya bisa merangkul ku seraya berkata “Sudahlah sayang jangan bersedih, dia hanya pergi untuk beberapa tahun  melanjutkan ke universitas yang telah dipilihnya” sambil mengelus rambutku.
Hari-hari ku lalui tanpa ada kabar darimu, ketika teringat kejadian di Bandara Juanda itu aku sering merasakan kau akan pergi dariku. Air mata pun turun seperti derasnya hujan. Sebentar lagi aku akan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi. Dan aku mengharapkan kau datang ketika aku akan diwisuda nanti.
Waktu begitu cepat kurasa. Tiba waktunya hari dimana aku akan diwisuda dan mendapatkan gelar yang aku idam-idamkan selama aku kecil dulu. Dimana aku berjuang sendiri melawan kerasnya dunia pendidikan, tapi berkat 2 malaikat nyataku yang selalu memberikan materi, do’a serta kasih sayang aku bisa menghadapi ini semua.
Waktu itu langit terlihat mendung, aku dan kedua malaikat nyataku pergi bergegas kekampus ku. Beliau takut akan terlambat di acara yang bersejarah ini. Sampai di kampus kami pun duduk ditempat yang sudah disediakan oleh panitia. Acarapun dimulai. Sejak diumumkan mahasiswa/i lulusan terbaik dan piala serta piagamnya akan diserahkan oleh Dosen Internasional ternama yang berkunjung ke Indonesia.
Entah kenapa badan ku berkeringat dingin, jantungku berdetak kencang tak seperti biasanya saat namaku lah yang dipanggil sebagai Mahasiswi lulusan terbaik. Akupun beranjak dari tempat duduk ke panggung untuk mengambil apa yang aku capai.
Sampai dipanggung, sontak saja aku terkejut ketika melihat wajah Dosen yang disebut-sebut tadi, seperti ku pernah mengenalnya. Dia memberikan selamat kepadaku dengan suara lembutnya. Ternyata dia adalah kekasihku 5 tahun belakangan. Dia segera memelukku erat dan mencium keningku. Saat yang bersamaan hujanpun turun membasahi halaman kampus, serta menghapus air mata kerinduan.
Semua mata tertuju kepada kami, semua merasa bingung termasuk kedua malaikat nyataku. Dosen itu akhirnya menjelaskan kepada tamu undangan bahwa akulah kekasihnya yang 5 tahun belakangan. Disaat yang sama dia mengucapkan dihadapan orang banyak bahwa aku mau dia jadikan istrinya.
Aku hanya bisa diam dan mengiyakan, sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Dan benar saja dia jodohku yang dikirim Tuhan untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar